Apa itu Efek Chorus?

Chorus Effect melapisi salinan sinyal audio Anda yang sedikit di-detune dan ditunda. Sesuaikan depth, rate, delay time, dan mix untuk mengontrol ketebalan efek. Berfungsi dengan vokal, gitar, synth, atau sumber audio apa pun.

Prosesor menyalin sinyalmu menjadi 2 hingga 6 suara, masing-masing dengan jeda kecil (5–50 ms) dan dimodulasi LFO sinus, segitiga, atau kotak. Depth menentukan seberapa jauh nada bergoyang, rate seberapa cepat goyangannya, dan feedback seberapa banyak sinyal yang sudah tertunda kembali ke rantai untuk menebalkan suara. Mix wet/dry membuatmu bisa menjajal dari kehangatan halus sampai shimmer awal 90-an penuh, dan tiap suara dibagi ke seluruh image stereo, jadi sumber mono pun jadi lebar saat diekspor. Waveform tergambar begitu file selesai didekode, dan saat pratinjau ada garis beranimasi yang mengikuti output yang diproses, jadi kamu tahu persis apa yang dilakukan rantai sebelum mengekspor. Mulai dari salah satu lima preset bernama — Halus, Klasik, Tebal, Berkilau, Berat — lalu sesuaikan dari sana.

Cara menggunakan

  1. Unggah file audio (MP3, WAV, OGG, FLAC, AAC, M4A, atau WebM). Waveform langsung digambar begitu file selesai didekode, jadi kamu bisa pastikan file sudah termuat.
  2. Pilih preset (Halus, Klasik, Tebal, Berkilau, atau Berat) sebagai titik awal, lalu sesuaikan slider — depth (variasi pitch), rate (kecepatan modulasi), delay (waktu delay dasar dalam ms) dan mix wet/dry — dan pilih bentuk LFO (sinus untuk getaran halus, segitiga untuk gemetar yang lebih bersudut, kotak untuk lompatan pitch yang tajam).
  3. Pakai tombol Bypass untuk membandingkan A/B sinyal kering dengan rantai chorus, seret bilah untuk melompat ke titik mana pun, atur sampai pas, lalu unduh dalam format pilihanmu: WAV, MP3, OGG, atau FLAC.

Kapan menggunakan

  • Menambahkan shimmer ala 80-an pada take gitar bersih sebelum mixing.
  • Mengganda suara vokal yang tipis agar lebih duduk di mix tanpa take ulang.
  • Menyebar pad synth mono ke lapangan stereo untuk backing ambient.

Hasil

Seorang gitaris mengunggah rekaman gitar elektrik clean, mengatur chorus depth ke 40%, rate 1,2Hz, dan delay 25ms. Hasilnya terdengar seperti tone clean klasik era 80-an, yang ia unduh sebagai file WAV.

FAQ

Apa beda depth dan rate?
Depth adalah lebar ayunan nada: kecil (20%) hanya men-detune sedikit; besar (80%) terdengar mirip vibrato. Rate adalah kecepatan ayunannya: 0,5 Hz lambat dan berkilau, 3 Hz mulai bergoyang ala Leslie. Chorus musikal biasa berada di 30–50% depth dan 0,8–1,5 Hz rate.
Kenapa file ekspor terdengar lebih keras dari aslinya?
Menumpuk 3 suara atau lebih menambah energi, sinyal wet bisa 1–3 dB lebih panas dari dry. Turunkan mix ke 60–70% atau kurangi master gain beberapa dB sebelum ekspor bila file akan masuk tahap mixing berikutnya.
Bisakah membandingkan A/B sinyal kering dan chorus tanpa unggah ulang?
Bisa — tombol Bypass di baris transport berpindah antara rantai chorus dan sumber tanpa proses saat audio diputar. Mix wet/dry tetap di posisi terakhir, jadi kamu bisa lanjut menyetel begitu kembali.
Apakah feedback menjadikannya flanger?
Pada delay panjang (25 ms+), feedback menambah dengung resonan, bukan flanger asli. Untuk flanger sungguhan, turunkan delay di bawah 10 ms dan naikkan feedback 60% ke atas. Alat ini tetap rasa chorus karena batas bawah delay diatur di rentang chorus.
Format ekspornya apa?
Kamu yang memilih formatnya: WAV (tanpa kompresi, 16-bit 44,1 kHz), MP3, OGG, atau FLAC. MP3, OGG, dan FLAC dikodekan di perangkatmu dengan FFmpeg — tidak ada yang diunggah. Kalau sumbernya mono dan ada dua suara atau lebih dengan Lebar Stereo di atas nol, sinyal otomatis dilebarkan ke stereo supaya lebar suara yang kamu dengar saat pratinjau tetap tersimpan di file; sumber yang memang stereo mempertahankan jumlah kanal aslinya. Setiap format masuk rapi ke DAW mana pun untuk dilanjutkan mixing.

Alat terkait